Monday, April 30, 2007

I am 40% Left Brained, 60% Right Brained

Di blog Alfin, gw ngeliat test yang menarik. Akhirnya gw coba n beginilah hasilnya...

You Are 40% Left Brained, 60% Right Brained

The left side of your brain controls verbal ability, attention to detail, and reasoning.
Left brained people are good at communication and persuading others.
If you're left brained, you are likely good at math and logic.
Your left brain prefers dogs, reading, and quiet.

The right side of your brain is all about creativity and flexibility.
Daring and intuitive, right brained people see the world in their unique way.
If you're right brained, you likely have a talent for creative writing and art.
Your right brain prefers day dreaming, philosophy, and sports.

MUAK

Ketika sebuah perkembangan hanya dilihat dari sisi sebuah software
Ketika sebuah pembelajaran dilihat dari sisi sebuah pertanyaan
Ketika sebuah ketidakrutinan memutakhirkan hasil berarti ketiadaan kemajuan
Ketika sebuah ketidakmampuan mencurahkan ide dianggap sebagai kemunduran
Ketika lagi-lagi dihadapkan oleh kegagalan

Hanya satu kata yang terpikir
MUAK

Saat kebosanan menyeruak di dalam hati
Saat masa lalu kembali menghantui
Saat semua peristiwa kembali membawa arti
Saat hati kecil tidak mampu lagi untuk ditanya keinginan diri
Saat lagi-lagi pertanyaan-pertanyaan lama kembali hadir di sini
Saat nanar mata meneteskan setitik air di pipi
Saat kesunyian malam kembali menyelimuti
Saat hanya sebuah file mp3 diputar terus berulang kali

We didn't start the fire
It was always burning
Since the world's been turning
We didn't start the fire
No we didn't light it
But we tried to fight it
...

Lagi-lagi aku MUAK

Ingin rasanya melontar sumpah serapah
Namun, semua hanya tertahan di ujung lidah
Ide-ide brilian yang biasa dengan mudah tertumpah
Hanya terlihat sebagai sampah
Ingin rasanya menikmati nikmatnya sebuah rebah
Tapi saat mata terpejam, yang terasa hanyalah resah

Memang aku sedang MUAK
Untuk kesekian kalinya kututup mataku dan kudengar lagu itu dari komputerku

I CANT TAKE IT ANYMORE!!!
We didn't start the fire
But when we are gone
Will it still burn on, and on, and on, and on...
Billy Joel in We didn't start the fire

Bagus juga, pikirku....
kayaknya bisa menemani malamku yang sedang penuh dengan MUAK

Aachen, April 30, 2007

di tengah kesunyian pagi
ditemani komputer yang terus menyala dan mp3 yang terus berulang

Wednesday, April 18, 2007

Preambule of PLE - 3 (E-Learning)

OK, sekarang saatnya saya melanjutkan posting tentang thesis saya. Sebelumnya saya telah mengungkapkan latar belakang dari sisi learning dan tools (LMS). Sekarang saya akan mencoba mengungkapkannya dari segi E-Learning.

E-Learning

Apa sih definisi E-Learning? Wew, sebenarnya telah banyak definisi diungkapkan dan ternyata sampai sekarang orang belum sepakat juga tentang definisi e-Learning. Horton mengungkapkan salah satu definisi, eLearning is the use of information and computer technologies to create learning processes. Juga Thomas Baumann, e-Learning is the teaching and learning with and in the internet. Bagi saya pribadi, saya bayangkan e-Learning sebagai sebuah sistem yang memungkinkan seseorang mempelajari sesuatu, baik untuk kepentingan pendidikan, pekerjaan ataupun hal lain via internet ataupun fasilitas sejenisnya.

Kenapa sih E-Learning ini penting? Gambarang paling mudah adalah persoalan perkembangan teknologi informasi dan komputer (Information and Computer Technology = ICT) juga demografi. Dengan teknologi yang ada telah banyak produk terintegrasi yang diperkenalkan kepada masyarakat, sebagai contoh integrasi kamera, organizer dan digital camera. Selain itu, informasi sekarang memegang peranan penting dalam mengubah dunia. Hal ini dapat terlihat dari daftar orang-orang terkaya dunia, yang ternyata dipenuhi oleh orang-orang yang bergerak di bidang informasi. Contoh termudah, Bill Gates dengan Microsoftnya. Teknologi juga mengubah gaya hidup orang banyak. Semakin banyak orang yang terbiasa membuka, membaca dan membalas email-email sebelum bekerja; internet surfing; bermain internet games; bahkan internet shopping.

Alfred Bork, menyatakan bahwa hampir semua orang belajar dalam one-on-one environment, maksudnya jika punya tutor khusus ataupun diajar oleh guru yang kompeten. Namun, ini tidak mungkin. Di sekolah Indo 1 guru untuk 25-40 murid, di universitas lebih parah lagi 1 dosen untuk 50-2000 (jerman). Bayangkan ada banyak orang yang ingin belajar di suatu universitas tapi kemampuan universitas untuk menampung para mahasiswa ini sangatlah terbatas. Menurut kuliah E-Learning, target pemerintah jerman adalah 50% orang jerman di tahun 2015 mencicipi universitas. Hal ini tentunya adalah hal yang sangat sulit, mau dibangun berapa banyak universitas? Dan kalaupun berhasil, apakah bisa dicari sekian banyak orang yang punya kapabilitas mengajar? Itu baru dari orang jerman saja, bagaimana dengan auslander (orang luar negri)? Apalagi kemajuan pendidikan tidak hanya di eropa tetapi juga di negara2 berkembang. Bagaimana dengan mereka? Dengan begitu, solusi e-Learning bagaikan oasis di tengah padang pasir.

Namun, ternyata dalam perkembangannya e-Learning pun mengalami pasang surut. Banyak pihak yang merasa e-Learning sekarang ini adalah LMS, dan menurut riset2, LMS pun tidak dapat menjawab semua tantangan e-Learning. Sebagai contoh adalah munculnya generasi baru yang disebut Homo Zappiens. Wim Veen menyatakan bahwa mereka ini adalah anak-anak/orang-orang yang sejak kecil telah terbiasa menggunakan 3 hal, remote control (televisi), mouse (komputer) dan ponsel. Homo zappiens adalah self-directed learner, mereka terbiasa belajar dengan cara mereka sendiri. Bagi mereka, school is boring and game is cool. Kali ini kembali untuk kesekian kalinya, e-Learning pun ditantang untuk bisa mengakomodasikan learning bagi generasi baru ini.

Aachen, 18 April 2007

PS: susunan dan urutan penyajian ide-ku keliatannya agak kacau di sini. Hmmm...komentar tentang hal yang saya sajikan di atas sangat diharapkan

Tutup STPDN? : Silang Pendapat tentang STPDN/IPDN

Dulu waktu ada kejadian matinya seorang praja STPDN, banyak pihak mengutuk STPDN. Termasuk gw. Gw pikir, ini kampus preman abis sih? Seorang opsir militer aka tentara yang ditanya mengenai pendidikan (kekerasan) di STPDN saja sampai berkata, kira2 begini (redaksi tepatnya lupa) "Itu bukan pendidikan militer, tapi kekerasan. Dalam pendidikan kemiliteran kami ditempa untuk melatih fisik dan mental. Hukuman yang dibebankan ke kami pun bersifat latihan fisik ataupun mental seperti push up, atau lari keliling lapangan. Itupun setelah fisik dan mental kami dipersiapkan.". Maka ketika orang-orang berteriak, "bubarkan STDPN", saya pun berteriak, "SETUJU!!!".

Akhirnya STPDN pun dibubarkan, eh ganti nama maksudnya, jadi IPDN. Kali ini terjadi lagi. Seorang praja meninggal dan diduga meninggal akibat penganiayaan. Seorang dosen IPDN, Inu Kencana, berteriak lantang meminta agar kasus ini dibongkar tuntas. Kembali orang-orang berteriak, "bubarkan IPDN", dan saya pun awalnya akan berteriak hal yang sama. Sampai suatu ketika tersasar ke forum komunitas alumni STPDN/IPDN.

Orang-orang berteriak bubarkan STPDN/IPDN akibat institusi yang lalai dan membiarkan terjadinya lebih dari 30 orang korban selama berdirinya institusi itu. Namun, para alumni STPDN pun menjawab, "Jangan hanya melihat 30 orang yang mati. Tapi lihat pula puluhan ribu orang yang telah berhasil dihasilkan oleh STPDN dan membaktikan diri pada negara." Alumni ini ada benarnya juga. Entah karena di-blow up oleh media, sekarang terkesan STPDN benar-benar menjadi institusi terburuk se-Indonesia. Kalau kita melihat ospek di perguruan tinggi lain, apakah juga tidak ada korban jiwa? Saya rasa ada, hanya tidak masuk ke dalam berita saja. Tapi tentang pernyataan puluhan ribu alumni yang berhasil dicetak oleh STPDN juga perlu dikritisi. Apa benar?

Orang-orang berteriak "STPDN penuh dengan kekerasan dan membawa korban", dan para alumni menjawab, "Saya beberapa tahun di sana dan lulus. Sampai sekarang saya sehat2 saja.". Orang-orang berkata "karena STPDN telah membiarkan banyak korban, tutup STPDN", para alumni pun menjawab "Jangan karena ada seekor tikus, maka satu lumbung dibakar. STPDN itu ..... (pokoknya kebaikan STPDN ditulis semua. Saya tak tulis karena saya tak bisa lagi mengakses situs tersebut)". Dalam chat dengan teman, teman saya berkata bahwa untuk pembiayaan makan anak2 STPDN saja udah menghabiskan 150 M, jadi udah sepantasnya kalau mereka jaga kelakuan. Hmm...saya sendiri juga malu dengan pernyataan itu. Sedikit banyak saya merasa terkena sindir. Sewaktu kuliah di Indonesia, yang jelas-jelas disubsidi oleh dana pemerintah, saya terlambat 1 semester. Bagaimana dengan kawan-kawan yang meng-optimal-kan waktu 7 tahun untuk kuliah? apakah itu juga termasuk ke dalam perbuatan "tidak menjaga kelakuan"?

Di media juga diberitakan bahwa Inu Kencana disebut2 sebagai pahlawan. Namun, apakah itu juga benar? Saya tidak bisa menjawab, sebab beberapa Alumni menyatakan beberapa kejelekan tentang Inu Kencana. Tentang hal freesex IPDN, saya sih hanya tertawa. Plis dong, emangnya hanya IPDN yang melakukannya? Udah jadi rahasia umum, banyak kota di Indonesia telah terkena kasus ini, termasuk juga mahasiswa2nya. So, apakah karena ini IPDN juga harus dibenci? Saya penentang freesex tapi saya tak bisa menerima argumen IPDN harus ditutup karena praja-praji-nya mesum.

Bagi saya, kasus2 IPDN tetap harus diusut. Keberadaan IPDN sendiri juga perlu dipertimbangkan, perlu dipertahankan atau ditutup. Tapi alasan penutupan bukan karena kekerasan yang terjadi, bukan pula akibat kemesumannya. Kalau hanya ingin menghentikan kekerasan dan kemesuman, buatlah pendidikan yang benar, sanksi yang adil, peraturan yang ketat serta kalau perlu ganti orang2 yang memegang sistem di IPDN. Jangan biarkan kekerasan menjadi tradisi dan mendarah daging. Jangan juga biarkan nyawa 30-an orang yang hilang, adalah perlu sebagai kompensasi bagi keberhasilan puluhan ribu orang.

Alasan penutupan harusnya alasan yang logis. Masih perlukan IPDN bagi perkembangan Indonesia? Apakah ilmu-ilmunya tidak diajarkan di tempat lain atau bahkan mungkin universitas2 yang ada lebih dari cukup? Masih perlukan IPDN diberi dana sebanyak yang sekarang? Selama yang didapat hanya jawaban negatif atas pertanyaan-pertanyaan itu, maka "TUTUP IPDN". Jika masih banyak positifnya, "ROMBAK SISTEM DI IPDN". Cukup kehancuran PT. DI (Nurtanio dulu), menjadi pelajaran bahwa sekedar perhitungan budget yang tidak cukup, emosi atas simbol orde baru, ada kemungkinan penyimpangan membuat orang-orang terbaik di Indonesia pergi ke luar negeri.

PS: pernyataan gw yang terakhir kayaknya ga nyambung deh.

Persembahan untuk Bang Jamz atas dialog dan opininya.

Aachen, 18 April 2007